Selasa, 01 Januari 2019

PERENCANAAN KEUANGAN. UNTUK INFO DAN PENDAFTARAN PAYTREN HUBUNGI MITRA PAYTREN KECAMATAN KADIPATEN, KABUPATEN MAJALENGKA, PROVINSI JAWA BARAT WA +62838 2424 1982

PERENCANAAN KEUANGAN
Penulis : sumber : dcomdev.binus.ac.id, 
Image News
Perencanaan keuangan (Financial Planning) adalah sebuah proses dimana seorang individu berusaha untuk memenuhi tujuan-tujuan finansialnya melalui pengembangan dan implementasi dari sebuah rencana keuangan (financial plan) yang komprehensif. Dari definisi itu, maka perencanaan keuangan itu secara konsep merupakan suatu aktifitas yang terdiri dari beberapa elemen. Artinya, kalau seseorang bisa dengan bangga menyatakan “Yes, I am doing financial planning now”, maka dia harus punya beberapa hal berikut: Harus ada tujuan-tujuan financial yang mau dicapai, Harus ada jangka waktu atau periode untuk memenuhi tujuan tersebut, Harus ada action plan yang jelas dan praktis untuk dilakukan, Harus ada sumber daya yang bisa digunakan untuk menjalankan action plan. Harus ada sejumlah faktor resiko yang terkait dengan pilihan sumber daya. Jika ternyata ada satu elemen saja yang hilang, maka konsep perencanaan keuangan itu sudah tidak ada alias bubar. Fakta lapangan, masih banyak individu yang kerap mengaku punya rencana keuangan, tetapi tidak bisa menyebutkan tujuan finansialnya secara pasti. Atau ada juga yang punya tujuan-tujuan financial tetapi tidak memiliki action plan yang jelas untuk mencapai tujuannya tersebut.

Mengelola Keuangan Keluarga. UNTUK INFO DAN PENDAFTARAN PAYTREN HUBUNGI MITRA PAYTREN KECAMATAN KADIPATEN, KABUPATEN MAJALENGKA, PROVINSI JAWA BARAT WA +62838 2424 1982

Mengelola Keuangan Keluarga
Penulis : sumber: cermati.com,
5 Langkah Mengatur Keuangan Rumah Tangga Pengaturan keuangan rumah tangga memang susah-susah gampang. Susah karena komunikasi tentang masuk dan keluarnya uang harus dilakukan secara jujur apa adanya dan transparan alias tidak ada yang disembunyikan. Tapi menjadi gampang ketika rasa saling percaya sudah terbangun dan terjaga satu sama lain. Meskipun begitu, kamu tetap harus mengetahui bagaimana cara mengatur keuangan rumah tangga karena ini adalah hal yang penting. Berikut ini kami rangkumkan beberapa langkah mengatur keuangan rumah tangga yang biasa dijalankan oleh rekan-rekan kami:

1. Proyeksikan Pendapatan Satu Bulan Langkah pertama adalah proyeksikan pendapatan yang akan diperoleh dalam satu bulan ini. Lakukan ini jelang tanggal gajian. Tentu sang suami dan istri tersebut sudah tahu berapa pendapatan tetap mereka dari pekerjaan. Tapi proyeksi ini maksudnya untuk menghitung berapa pendapatan yang datang dari: rumah yang dikontrakkan, dividen dari hasil investasi, uang lembur di kantor, duit dari pekerjaan sambilan, laba dari bisnis kecil-kecilan, dan seterusnya.

2. Alokasikan untuk Tabungan dan Investasi Dari total pendapatan tersebut, silahkan hitung dan sisihkan sebesar 25%-30% untuk tabungan dan investasi. Silakan diatur perbandingan antara tabungan dan investasi tersebut. Biasanya, tabungan untuk pengeluaran besar yang akan terjadi dalam jangka pendek. Misal: uang pangkal untuk putra/putri yang baru akan masuk sekolah. Atau pelunasan DP rumah tinggal. Nah, sedangkan uang yang akan diinvestasikan adalah uang yang kira-kira tidak akan digunakan dalam setahun ke depan. Dari jumlah tersebut, baru dialokasikan ke instrumen-instrumen investasi seperti emas, reksadana, saham, dan sebagainya.

3. Proyeksikan Pengeluaran Sebulan Berikutnya Langkah ketiga adalah lakukan proyeksi pengeluaran 30 hari berikutnya. Mulai dari kewajiban-kewajiban yang sifatnya tetap: KPR, kredit kendaraan, kartu kredit, premi asuransi, dan lain sebagainya. Bila pengaturan keuangan rumah tangga kamu cukup sehat, maka seharusnya pengeluaran untuk kewajiban-kewajiban tidak akan lebih dari 30% dari total pendapatan suami istri. Baru ke pengeluaran rutin rumah tangga. Pada bulan-bulan tertentu akan muncul pengeluaran seperti: uang sekolah anak, uang kursus anak, uang untuk liburan keluarga, dan beragam pengeluaran lainnya.

4. Sisakan Untuk Dana Cadangan Sisa yang tersimpan dari proyeksi pendapatan dan pengeluaran tersebut masuk ke dalam kategori dana cadangan. Dana ini wajib kamu siapkan untuk mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan mendesak, seperti apabila terjadi kecelakaan, musibah, dan keperluan sekolah anak. Dana cadangan ini biasanya sebesar 6-12 kali pengeluaran bulanan. Untuk menyiapkan dana cadangan seringkali sulit karena kebutuhan itu tidak terlihat jelas dalam bentuk apa, berapa besarnya, dan kapan akan terjadi, sehingga dana tersebut malah terpakai untuk kesenangan pribadi. Tapi jika kamu bisa menahan diri dan disiplin, kamu akan merasakan manfaat baik dari hal ini.

5. Tuliskan Rencana Langkah paling akhir adalah menyusun hasil dari 4 langkah di atas ke dalam satu rencana sederhana. Rencana ini berbentuk tabel yang memuat: tanggal, pemasukan, pengeluaran, dan saldo. Tabel ini mirip dengan buku tabungan. Intinya adalah berbagai pemasukan dan pengeluaran yang sudah terbayang dalam langkah pertama dan ketiga dituangkan ke dalam tabel. Penyusunannya harus sesuai tanggal. Jadi tanggal muda menempati bagian tabel paling atas. Sedangkan yang paling dekat dengan pendapatan/gajian di bulan berikutnya disimpan di bagian paling bawah tabel. Mudah bukan? Sekarang, Nikmati Manfaatnya Langkah-langkah di atas dilakukan secara siklikal dalam tempo sebulan. Tetapi pola yang sama tidak mesti untuk bulanan saja. Bisa juga untuk mereka yang mendapat gaji secara mingguan. Bisa pula untuk proyeksi dan perencanaan keuangan dalam jangka setahun. Bisa dikatakan, pola bulanan seperti yang tertuang bertahap di atas merupakan pendetilan daripada perencanaan keuangan rumah tangga tahunan. Dengan proyeksi sekaligus perencanaan keuangan seperti di atas, maka suami-istri akan siap untuk menerima uang kontan pendapatan keluarga. Dan tentunya keempat tahap di atas tidak akan bermanfaat apabila dilakukan secara tidak konsisten. Tanpa kesadaran penuh, akan ada pengeluaran-pengeluaran yang mendadak dan pembelian yang impulsif (impulsive buying).

Paytren akan Luncurkan Layanan remitansi. UNTUK INFO DAN PENDAFTARAN PAYTREN HUBUNGI MITRA PAYTREN KECAMATAN KADIPATEN, KABUPATEN MAJALENGKA, PROVINSI JAWA BARAT WA +62838 2424 1982

Paytren akan Luncurkan Layanan remitansi
Minggu, 30 Desember 2018 | 20:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Paytren akan mulai melayani jasa pengiriman uang remitansi pada bulan depan, januari 2019. Layanan ini memungkinkan para pekerja migran asal Indonesia di luar negeri mengirimkan uangnya ke Indonesia melalui layanan ini.
Owner Paytren, Yusuf Mansur mengungkapkan launching layanan remitansi dijadwalkan pada pertengahan Januari 2019 dengan dihadiri oleh pihak dari bank Indonesia.
"Antara 12-13 Januari 2019, Insya Allah layanan remitansi Paytren akan mulai berjalan, dan di tanggal itu akan ada seremoni untuk peluncurannya," kata Yusuf Mansur kepada Kompas.com, Sabtu (29/12/2019).
Yusuf Mansur menceritakan layanan remitansi oleh Paytren sebenarnya sudah bisa dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Namun saat itu layanan tersebut belum mendapatkan izin dari Bank Indonesia.
Untuk menjalankan layanan jasa transaksi keuangan, Paytren sempat menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan. Namun belum sempat berkembang, perusahaan tersebut oleh pemilik awal dijual ke investor lain.
"Data kami juga ikut dijual untuk menaikkan valuasi perusahaan tersebut. Sebelum menggandeng Paytren, transaksi mereka tidak sampai 10.000 transaksi per bulan," cerita Yusuf Mansur.
Paytren menghentikan sejenak layanannya, sembari menunggu keluarnya izin dari bank Indonesia. Hingga akhirnya izin untuk remitansi terbit.
Izin dari BI dikantongi pada 22 Mei 2018 lalu dan penyerahan izin dilakukan keesokan harinya. Yusuf bersyukur atas kepercayaan yang diberi pemerintah terhadap usaha yang dirintisnya.
Yusuf Mansur berharap Paytren dapat berkontribusi untuk perekonomian Indonesia dan menjadi salah satu keunggulan di negeri sendiri. Izin tersebut, kata Yusuf, membuat perusahaannya lebih lincah mengembangkan bisnis ke arah teknologi finansial dan e-commerce.
Editor: Bambang Priyo Jatmiko

Tips Jitu Atur Keuangan Keluarga Agar Tetap Terjaga

 UNTUK INFO DAN PENDAFTARAN PAYTREN HUBUNGI MITRA PAYTREN KECAMATAN KADIPATEN, KABUPATEN MAJALENGKA, PROVINSI JAWA BARAT WA +62838 2424 1982




Penulis : sumber : isl57amkafah.com, 
Image News
Adeuuuhh koq belum gajian juga yaaa? Ini persediaan bahan baku di kulkas sudah hampir habis. Belum lagi bayar ini dan itu. Anak di sekolah juga minta beli buku. Belum lagi biaya ke klinik karena kemarin anak yang bungsu sempat sakit. Jadi terpaksa harus pinjam uang ke tetangga. Untungnya tetangga sesama orang Indonesia. Eh baru ingat ternyata cicilan mobil juga belum dibayar dan sudah dapat SMS peringatan. Aahh puyeeeeeeng!!!” Adakah di antara kita yang mengalaminya terutama di akhir bulan atau di saat belum gajian? Katanya, mengatur keuangan keluarga sama sulitnya dengan mencari uang ya? Dan biasanya kalau sudah begini emak-emak puyeng mengelola keuangan yang benar-benar simpang siur ini. Hehe.. Setiap bulan–apalagi sebelum gajian–sering terasa sangat seret. Kebutuhan terasa lebih besar dari pemasukan. Besar pasak dari pada tiang nih ceritanya. Harus gimana doong? Pada ginjal ada pembuluh aferens dan eferens yang mengatur pemasukan dan pengeluaran cairan dalam ginjal kita yang nanti ada yang dibuang ada yang di re-uptake kembali. Jika pembuluh eferens lebih banyak mengeluarkan cairan sementara yang lewat menuju ginjal lewat pembuluh aferens sedikit, tentu saja ginjal akan bekerja dua kali lipat lebih berat untuk meng-kompensasinya. Karena pada prinsipnya tubuh berusaha untuk membuat segala sesuatu menjadi stabil dan berjalan normal. Bahasa ‘gaulnya’ mekanisme umpan balik. Tubuh memang ma syaa Allah luar biasa dan memang sebaik-baik bentuk penciptaan dari-Nya. Akan tetapi, tubuh memiliki ambang batas. Ketika tubuh terus meng-kompensasi ketidakseimbangan itu, maka ada titik di mana dia tak sanggup lagi. Di sinilah terjadi kerusakan-kerusakan. Maka inilah yang kita sebut sebagai sebuah penyakit. Tidak hanya di ginjal, ini berlaku untuk seluruh sistem yang ada di tubuh kita dari seukuran sel hingga level organ. Sungguh maha besar Allah yang menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan. Jikalah tugas-tugas tubuh itu diserahkan kepada manusia untuk mengaturnya (misal pernafasan yang tidak diatur oleh tubuh melainkan atas perintah otak kita secara sadar), mungkin tidak ada manusia yang dapat hidup lebih dari hitungan detik. Ma syaa Allah. Maka, tugas kita adalah menjaga agar tubuh yang Allah amanahkan itu terlaksana fungsinya dengan baik. Ini nasihat untuk saya terutama. Waah dari keuangan malah bicara ginjal dan kroni-kroninyanya ya? Hehe… Mari kita belajar dari ginjal dan bagaimana ginjal mengatur aliran cairan di tubuh kita. Sebagaimana pembuluh aferens dan eferens yang jika tidak ter-manage dengan baik harus dikompensasi yang pada satu titik justru membuat kolaps ginjal, begitu pula dengan keuangan kita. Pada awalnya, mungkin kita bisa mengkompensasi dengan cara minjam ke tetangga misalnya, atau jual barang yang bisa dijual untuk membuat pembuluh keuangan kita berjalan normal. Tapi jika kondisi ini berlangsung terus menerus, tiap bulan selalu saja lebih besar eferens alias outcome keuangan kita dibanding aferens atau income, pada satu titik akan membuat keuangan menjadi kolaps. Hutang kian menumpuk atau semua barang habis terjual. Jika begini pastilah keuangan kita sudah tergolong kolaps. Jadi bagaimana sih caranya agar keuangan kita sehat? YUK DIAGNOSIS PEMBULUH KEUANGAN KITA, SEHATKAH? Bukan hanya penyakit tubuh kita saja yang butuh didiagnosis, keuangan kita juga butuh check-up dan butuh didiagnosis juga loh penyakitnya. Bagaimana caranya? Jika ingin njelimet, maka butuh analisis yang sedikit lebih mendalam (dan kadang butuh bantuan ahli). Secara garis besar, diagnostik kesehatan dilakukan untuk jangka 1 tahun. Hitungan kasarnya adalah dengan men-total seluruh income selama setahun termasuk investasi jika kita memilikinya dan kemudian dihitung pula berapa outcome selama setahun termasuk kebutuhan tahunan semisal asuransi, biaya mobil, dan lain sebagainya yang tidak dikeluarkan setiap bulan. Jika selisih antara income dan outcome bernilai minus, berarti keuangan kita lagi sakit dan butuh dievaluasi lagi di manakah yang salah, apakah lifestyle yang terlalu tinggi atau sedekah yang kurang 🙂 TRIK MENGELOLA KEUANGAN Jika kita sudah men-diagnostik di manakah letak ‘penyakit’ yang membuat outcome kita lebih besar daripada income, maka saatnya kita beraksi untuk ‘mengencangkan ikat pinggang’ ehh maksudnya mengelola dan belajar untuk memenej keuangan kita agar tidak besar pasak dari pada tiang. Kaji berapa kebutuhan bulanan kita, misal untuk kebutuhan logistik alias dapur (setidaknya setiap bulan ada jumlah rata-rata yang kita habiskan untuk kebutuhan ini. Dapat dihitung dengan merata-ratakan pengeluaran bulanan minimal 3 bulan terakhir), kebutuhan pribadi suami dan istri, lalu kebutuhan kesehatan, pendidikan, kendaraan, perumahan, kesehatan, vacation, dan lain sebagainya (ini mah semuanya yaa hehe). Jangan lupa,keluarkan dulu zakatnya atau ziswafnya. Kita juga bisa menghitungnya dalam bentuk persentase. Berlakukan sistem jadul tapi ampuh yaitu sistem amplop Ya, setiap alokasi atau pos-pos pengeluaran kita bikin amplop-amplopnya. Misal amplop logistik, amplop insurance, amplop vacation dll. Jika memang dibutuhkan, ambil seperlunya saja dari amplopnya dan kembalikan lagi ke tempatnya jika memang ada kelebihan atau sisa. Jangan dijadiin uang jajan atau beli tas yang lagi diskon. Itu mah korupsi. Hehe.. Meskipun korupsi pada diri sendiri, tapi sering kali yang begini yang menjadi penyebab outcome kita jadi lebih besar dari income. Catat Barang belanja kebutuhan dan jangan keluar dari ‘jalur’. Seringkali ketika belanja kebutuhan dapur di supermarket misalnya, kita mudah tergiur dengan barang-barang atau bahan-bahan yang belum tentu kita butuhkan. Hanya sebatas ingin atau sesuatu yang seolah terlihat perlu. Sedihnya, kadang justru jadi penghias kulkas yang lama kelamaan masuk tempat sampah karena tidak sempat dimasak. Jadi mubazir dan menghamburkan uang. Sebelum berangkat ke market, perlu di-list dulu apa yang masih available dan apa yang benar-benar dibutuhkan. Kita mesti belajar untuk tidak keluar dari ‘jalur’ yang kita butuhkan saja. Seberapa besar pun godaan diskonnya, jika memang tidak butuh… harus segera ditinggalkan. Fokus. Disiplin! Berusaha untuk mengurangi makan di luar. Percayalah, makanan bikinan sendiri tetap lebih enak koq (terutama saat lapar, hihi). Bukan berarti tidak boleh makan di luar. Sesekali, mungkin kita juga perlu untuk me-refresh atau berganti suasana dengan makan di restoran favorit (tak perlu yang mahal tentunya karena momennya yang terpenting). Jangan lupa, anggarkan budgetnya (misal 1-2 kali dalam sebulan) dan jangan melebihi dari budget tersebut. Jika kita ingin sesekali makan di restoran yang lebih mahal dari biasanya, mungkin bisa disiasati dengan mengurangi frekuensinya (yang biasanya 2x sebulan menjadi 1x sebulan misalnya). Dan tetap harus dalam koridor budget yang kita tetapkan. Jika kita adalah seorang expatriate, siapkan dana untuk mudik dari jauh-jauh hari. Atau jika kita tinggal di negeri sendiri, siapkan dana untuk vacation. Menyicil persiapan mudik setiap bulan terasa lebih ringan dari pada mengeluarkan biaya sekaligus untuk mudik atau vacation. Meski hanya sedikit perbulannya, jika dalam dua tahun bakalan membukit juga in syaa Allah. Jadi, vacation bisa lebih enjoy tanpa harus mikir berlipat-lipat, abis selama di jalan “entar pas saya balik lagi, duitnya ada kaga yaa?” Selain ada pos untuk dana tak terduga, kita mesti punya dana cadangan untuk emergency case. Jika kita memiliki income di luar pendapatan rutin (misal dapat fee mengisi kajian, dll) maka sebaiknya disimpan sebagai dana cadangan. Tidak dipake untuk beli baju yang sedang diskon. Hehe… Jika kita memiliki hutang, misal berhutang pada diri sendiri (maksudnya ke pos keuangan kita yang lain, misal overbudget belanja bulanan dan terpaksa harus minjam ke alokasi dana asuransi), maka harus diprioritaskan untuk dibayar dibulan berikutnya agar stabilitas keungan kita terjaga. Jadi, sebagai konsekuensinya, di bulan berikutnya kita harus membayar kelebihan budget bulan sebelumnya. Gunakan dana cadangan hanya untuk hal-hal yang benar-benar sangat emergency. Jika kita memiliki hutang bulanan (misal cicilan rumah atau kendaraan), maka harus diprioritaskan untuk dibayarkan terlebih dahulu. Belilah barang-barang yang kita inginkan (bukan kebutuhan primer) hanya dari sisa belanja bulanan atau sisa belanja pribadi kita. Semoga Allah karuniakan kita rizki yang cukup dan barokah. Cukup bukan berarti harus bergaji besar. Tapi merasa cukup dengan apa yang Allah karuniakan. Di sanalah letak barokahnya. Meskipun income nya terlihat sedikit secara kasat mata, tapi selalu merasa cukup, maka di sanalah rizki yang sesungguhnya. Intangible value yang tak ternilai dengan sebesar apapun mata uangnya. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang qanaah. Aamiin.

Disruptif Era Digital PayTren; Mengubah Gaya Hidup dari Pengeluaran Konsumtif Menjadi Pengeluaran yang Produktif. Hubungi PayTrener Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat WA 0838 2424 1982

 Disruptif Era Digital PayTren; Mengubah Gaya Hidup dari Pengeluaran Konsumtif Menjadi Pengeluaran yang Produktif Yang dilakukan oleh peng...